Jumat, 30 Desember 2011

Maaf


Heemmm….
Pengen banget minta maaf sama semua, walaupun Icha nggak punya salah. Buat salah, lalu memohon agar orang itu memaafkan Icha, Huft! Maaf buat semua lagi, terutama ayah dan ibu dan temen-temen yang udah Icha buat marah. Hingga saat ini, belum ada yang faham betul Icha, semua temen yang Icha kenal saat ini pun, sangat susah Icha percaya dengan mereka. Bagaimana tidak? Mereka sudah berjanji akan diam soal apa yang Icha ceritakan, tapi, saat Icha tidak ada. Mereka menceritakan semua, memang saat mereka menceritakn itu Icha tidak tahu. Tapi, Allah selalu memberi tahu Icha, ada saja yang berbaik hati memberitahu Icha, atau Icha dengar sendiri. Huft! Tenang-tenang, ayo Icha minta maaf sama orang-orang itu. Hadeuuh!!

Kamis, 22 Desember 2011

Ibu??

Hari ibu.
Hari ini hari ibu? maaf ya bu, Icha nggak pernah ucapin selamat buat ibu. Nggak seperti anak lainnya, yang datang dengan sekuntum bunga ataupun dengan sebuah kado. Dan memeluk ibu mereka lalu berkata.
"Selamat hari ibu ya ma, ini buat mama." Icha nggak pernah buat ibu senyum, yang ada Icha buat ibu sedih. Maaf bu, Icha nggak pernah bermaksud buat ibu sedih, Icha sayang ibu. Icha janji, akan berikan yang terbaik buat ibu. Bu, jangan menangis lagi, Icha mohon. Ibu sudah mengorbankan segalanya buat Icha, kalau Icha sudah besar dan sukses nanti. Icha akan berikan segalanya untuk ibu. Icha tahu, itu semua tidak sebanding dengan semua pengorbanan yang ibu beri untuk Icha. Maaf bu, tidak ada yang bisa ibu banggakan dari Icha, Icha juga tidak tahu. Kenapa semua ini? Icha tidak pernah menjadi nomor satu diantara teman-teman, Icha tidak pernah membuat ibu tersenyum. Dan yang paling menyedihkan, Icha tidak menangis, hati Icha tidak tersentuh ketika mengingat dosa Icha pada ibu dan juga ayah. Bukan bu, jangan sedih lagi. Itu bukan salah ibu dan ayah. Ini salah Icha sendiri, menjadi anak yang tidak tahu apa-apa, tidak berguna. Bu, maafkan Icha, Icha mohon jangan menangis. Allah, biarkan ibu di sini bersama Icha dan keluarga. Jangan biarkan ibu sakit, ibu, tolong dengar Icha. Icha cinta ibu. Icha sayangkan ibu, Icha akan beri segalanya buat ibu. Katakan Icha harus apa bu? Ibu, Icha janji, tidak akan pernah lagi Icha buat ibu sedih. Icha akan berusaha jadi anak yang sholeha, yang berbakti yang cerdas dan pintar. Bu, percayalah, Allah akan member yang terbaik, untuk malaikat yang sangat baik seperti ibu. Allah, hilangkan segala kesusahan ibu, berikan yang terbaik untuknya, sejuk dan damaikanlah hatinya, biarkan ia melangkah menggapai ridhomu. Hapus air matanya Allah, Icha tidak sanggup melihat ia menangis. Bu, Icha terimakasih. Atas segalanya. Anakmu ini, hanyalah seorang bodoh yang tak bisa apa-apa, Icha mohon, jangan bandingkan lagi Icha dengan anak lain. Yang hebat, yang cerdas, dan yang pintar. Itu akan membuat ibu bertambah sedih bu, Icha juga pasti menjadi anak minder. Bu, Icha tahu, Icha banyak salah. Maafkan Icha, Icha mohon bu, di sana nanti. Icha akan menimba ilmu, Icha janji akan mengantarkan ibu dan ayah melangkah menggapai ridho Allah, Allah usap air matanya, Icha tak ingin lihat ia menangis. Bu, Icha janji akan berikan terbaik untuk ibu, akan icha buktikan itu. Icha tahu, itu tidak akan berarti apa-apa, tapi paling tidak. Cukup untuk membuat ibu senang, dan cukup membuat Icha puas menjadi diri Icha sendiri.Bu, dengarlah, ibu adalah segalanya untuk Icha, tak akan ada yang bisa menggantikan ibu. Icha janji akan selalu menjadi yang terbaik untuk ibu."Allah, izinkanlah aku bahagiakan dia.."

Senin, 19 Desember 2011

Sepucuk Surat untuk Mujahid Kecil

Assalamu'alaikum w.w
saudaraku, aku bangga dengan kalian. Menghadapi Zionis La'natullah tanpa takut. Seandainya, aku terlahir bersama kalian di bumi Palestina, mungkin aku sudah bergelar Syuhada, dimana aku akan mendapatkan jiwa Mujahidah di sini?? Jika terkena pecahan beling saja aku sudah mengeluh sakit, meski tak menitiskan air mata tapi itu membuktikan kalau aku lemah! Aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kalian. Aku sering melihat kalian di layar monitor, meski itu hanya lewat CD yang diberi pamanku ataupun lewat youtube, kurasakan kesedihan. Aku harap, Allah memberiku jiwa kuat itu, jiwa mujahidah itu.
Aku harap, Allah memberiku kesempatan berjuang bersama kalian.
Saudaraku, aku tahu ada kesedihan dalam hatimu melihat saudara kecil kita tak sempat melihat indahnya alam ciptaan Allah.
aku tahu ada kesedihan yang menyelinap dalam hatimu kala melihat para ummi menitiskan air mata.
melihat para abi menjadi tahanan Zionis La'natullah.
kuharap aku masih diberi hati yang lembut oleh Allah, karena belakangan ini aku sudah tidak menitiskan air mata mengingat dosaku saudaraku. Bantu aku, bagaimana caranya mendekati Allah, melawan nafsu.
Salam dariku Ainur Hafidzah, ohya, jika ada salah satu dari kalian ke Indonesia, mampir ke rumahku ya? berbagilah denganku, ajari aku semua kebisaanmu.
Wassalamu'alaikum w.w

Jumat, 02 Desember 2011

Adik ImutKu Nih.!!



Fathurrahman Arviansyah

 Zikri Gusviansyah


Adikku ganteng semua, yang pasti cowok semua.. Dari dulu, aku pengen banget adik cewek, biar bisa aku ajak main bareng. Kalo adik aku ada cewek nanti, pasti mirip aku kecil. Hehehe ^_^






Peliharaanku

Wah, Alhamdulillah, senangnya. Ayam kate kecilku sudah menetas, 3 kate kaki bulu, 9 lainnya tidak, warnanya keemasan. Yang udah netas 7. Alhamdulillah ya Allah, imut-imut banget. Hihiii...



Rabu, 30 November 2011

Inilah PemeNang

Aku dan teman-teman sebentar lagi berpisah, Bismillah. Yang tinggal hanyalah kenangan masa lalu berwarna.
Narsisnya dua temanku ini, nggak akan bisa brhenti. Ini sehabis Dzuhur 2010, lho! inilah Rizka (Kiri) Dan Rizky (Kanan)









Habis KK (Kerja Kelompok) Happy Learning di Humznya Afifah, pada maen laptop.




Narsisnya Intan nggak nahan, pake hp siapa aja, pokoknya ambil gambar.
Intaaan, kok aku di ajak fotho juga??
Kali ini Dilla, aah.. Intaaaan!


Ustadzah Yetti pelit ah! tapi, beruntung Icha bisa ambil dikit. Hehehee.... Afwan ya ustadzah, 1 poin
kesalahan Icha hari ini. (Sabtu, 26 2011)
Rizka Narsis Abizz..


Aliya Neeh....


Sebelum berangkat, ayah fotho Icha dulu, senyum nggak ikhlas, lho!

Rabu, 23 November 2011

Allah Tak Akan Membiarkan Hamba-Nya menangis

Assalamu'alaikum sahabat, saya hanya ingin membagi pengalaman yang luar biasa ini. Pertama saya berterima kasih kepada Allah yang selalu ada untuk saya. Saya juga berterima kasih, atas Muhammadiyyah yang menghadirkan Ustadz Yusuf Mansur ke Curup ini. Setelah mengikuti pengajian ustadz Mansur, iri yang ada di hati saya. Karena ustadz Mansur selalu bercerita, mesranya kepada Allah dan juga dekatnya kepada Allah. Karena itu, saya acuh dengan perkataan ustadz Mansur. Tapi, entah bagaimana kata-kata ustadz Mansur lengket di otak saya. Saya hafal semua kata yang dilontarkannya. Selalu saya fikirkan kata "Pulang ke rumah saya Mencari Allah, untuk menceritakan semuanya seperti bercerita pada manusia" itu berarti, ustadz Mansur curhat pada Allah seperti pada manusia. Apakah bisa begitu? ustadz Mansur juga berkata dia selalu meminta kepada Allah, caranya sama persis seperti anak meminta pada orang tua. Memohon.
Hari Sabtu kemarin, Ustadzah meminta raport untuk dikumpulkan agar bisa di data. Sepulang sekolah, saya langsung mencari raport itu? saya membongkar semua yang ada di hadapan saya, rak buku, lemari pakaian, sampai kaleng kertas. Tapi, di manakah raport itu? Oh, Ya Allah, cemas sekali rasanya saat itu tapi hati ini tetap mengingatkan, "Allah selalu ada, Allah tak akan membiarkan hamba-Nya menangis" terus, terus. Waktu hanya tinggal beberapa hari lagi. Tapi esoknya, setelah melaksanakan tahajud disertai witir, hati begitu tenang. Tenang. dan Tenang. Tidak terasa gelisah, hati terkadang bertanya. Oh Allah, mengapa hatiku setenang ini? apa yang akan terjadi? mengapa aku ceria seperti biasa? bukankah harusnya aku merasa gelisah dan cemas atas raport itu? tapi, hati ini tetap tenang. Tenang sekali, aktivitas tidak terganggu. Keceriaan tetap ada pada tempatnya. Dan ketika sampai batas waktu, raport belum juga ditemukan. Hati tetap tenang, wajah tetap tersenyum. Seperti biasa, normal saja. Tibalah saat berangkat, saya hendak menaiki motor, tapi ummi memanggil, saya segera berlari memenuhi panggilan ummi, ummi memberikan sebuah buku yang tak tebal tak tipis, berkulit biru. SubhanAllah! itu raport yang di perlukan hari ini! Allahu Akbar!! Maha Suci Allah!! Tak berhenti saya mengucap Hamdallah dan Takbir. Setelah raport, yang hilang sekarang kertas lembar isian data diri untuk UN. Terakhir di kumpul besok, malam ini saya bolak balik mencari. Selesai maghrib, saya Berdo'a panjang, Mohon Allah Icha hanya ingin bantuan-Mu, Allah Icha tahu Icha hamba ingkar, Tapi, bantulah Icha menjauhi laranganMu, bantu Icha dalam usaha menggapai RidhoMu, CintaMu Allah, jangan biarkan Icha tenggelam ke dalam dunia fana ini ya Allah, ingatkan Icha tuk selalu beristighfar, Allah, Icha malu pada diri Icha yang tidak bisa menjadi hamba yang menepati janjinya, Allah bantu Icha mencari kertas itu, kertas itu Icha butuhkan untuk melanjutkan sekolah ke pesantren yang InsyaAllah, akan mencetak Icha sebegai Hafidzah dan ulama, yang akan membantu Icha memahami setiap kata dari kalamullah, kitabMu Allah, bantu Icha mencari kertas itu agar impian Icha sekolah ke Madinah tercapai, bantu Icha Allah, bantu Icha. Selesai, saya kembali mencari kertas itu, terus dan terus. Kali ini, hati gelisah dan kesal. Ummi terus mengulangi hafalan, saya mendatangi Ummi dan bertanya, tapi Ummi tidak tahu soal itu, bertambah kesallah saya, saya berjalan ke kamar, membongkar semua apa yang di berada di dekat saya, memeriksa satu per satu kertas yang ada di kamar, memeriksa setiap lembar buku dan kitab, tapi tidak ada, air mata menitis, sudah terlalu penat. Saya mengambil buku santri dan mulai mencari Do'a, membaca Do'a hafalan saya, dan duduk menangis. Munculah prasangka buruk pada Allah, terus hingga adik saya datang. Saya membentak dia, karena masih kesal. Berdiri dan kembali membongkar buku dan kitab. Tanpa sengaja, saya memegang sebuah kertas. saya buka dan SubhanAllah!! Allahu Akbar!! Air mata kembali menitis tapi kali ini perasaan takjub, Allahu Akbar! memang benar pernyataan itu, subhanAllah, dan kali ini. Alhamdulillah prasangka buruk itu hilang, Allahu Akbar!! Maha Besar Allah yang semua apa-apa di Bumi ini adalah Milik-Nya dan dalam genggaman-Nya. Allah maha kuasa atas segala yang di kehendaki-Nya.
Ini hanya pengalaman saya, saya harap ini menyentuh hati para sahabat.
Wassalamu'alaikum.

Jumat, 21 Oktober 2011

Motivatorku


 Randa bernyanyi di atas panggung itu, sang artis SDIT sekarang sudah populer di SMP 01 Curup Kota. Ingin rasanya aku menangis, sepertinya benar ustadz Pian membenciku. Tadinya aku terlampau senang, karena sms itu, aku membacanya berkali-kali, kukira aku memenangkan lomba itu, ternyata tidak. Seperti ditipu, hatiku sakit sekali, aku bisa menahan air mataku disana, Randa masih saja menyanyi, aku menghampiri Rizka, wajahnya tampak murung.
“Hai, Riz, ada apa??”
“Aku kalah……..”
“Piala itu………” aku menunjuk sebuah piala, bertuliskan ‘Juara 1 Lomba Olimpiade IPA’
“Ini punya kak Yais……..” Rizka menjawab lesu, aku tersenyum dan setengah berlari ke arah ayahku. Dari wajah dan sikapku, aku terlihat gembira dan semangat, tapi tak dihatiku. Kebetulan, ada beberapa teman ayahku disana, mereka sedikit bertanya tentangku, dan Alhamdulillah, mendapat beberapa pujian, walau begitu hatiku masih tetap murung, tak bisa tersenyum. Aku ingin pulang, ingin menuntaskan kesedihan hatiku. Melihat Randa yang akan bernyanyi kembali, aku mengatakan kepada ayah bahwa aku ingin mendengar suara Randa. Sedang asyik menikmati lagu yang dibawakan Randa, Izzah dan Rizka mengahampiriku.
“Kasihan banget ustadz Pian……..”
“Emang kenapa dia?”
“Ustadz udah bilang, Randa jangan suka nyanyiin lagu pop, tapi masih aja dilawan……..”
“Ya, terserah Randa dong, Randa juga cocok nyanyi gitu, udah keren, cakep, suaranya bagus…….” Ujarku sambil mengerutkan dahi, kulihat ustadz Pian menuju ke arah kami, aku segera berbalik dan berteriak kepada Izzah dan Rizka.
“Aku duluan…..” mereka saling pandang, tak mengerti. Aku segera mengajak ayah pulang. Ketika sampai di tempat parkir, ayah tersenyum dan bertanya padaku.
“Ada ustadz Pian terus pergi, gitu yah?” aku hanya tersenyum, sampai di rumah aku mengganti baju dan mulai membantu ibuku. Hatiku masih sedih, aku berusaha menghibur dengan mengkhayal, tapi itu malah menambah kesedihan. Aku bernyanyi, tapi tetap seperti itulah. Aku tak dapat menyembunyikan kesedihanku dari ayah dan ibu, mereka mengetahui betul sifatku, air mataku kembali mengalir, aku mengusap air bening itu.
“Sudahlah, memang bukan rezeki Icha…….”
“Kalo itu tidak mengapa bu……..” mataku mulai berkaca-kaca kembali
“Icha sudah biasa kalah bu…….” Lanjutku lagi, air mataku kembali membanjir, susahnya menenangkan hatiku.
“kok nangis terus??”
“Ustadz kok mau nipu Icha? Itu yang bikin Icha sedih, kok ngebohongin Icha, Icha tau udah sering Icha kalah mewakili sekolah, tapi masa harus dibohongin Ichanya?”
“Ustadz bukan ingin ngebohongin Icha, tapi pengen Icha lebih semangat karena melihat teman lain menang……” aku diam dan memasuki kamar, mulai menulis diary, tempatku mencurahkan isi hatiku, aku yakin akan mengurangi rasa sedihku walau sedikit. Matahari sudah mulai tenggelam, langit kemerah-merahan, indah sekali rasanya. Aku merogoh kantong celanaku, mengambil hp dan mulai menyusun kata, mengirim pesan itu untuk sahabatku Intan. Langit menghitam, bulan bagai lampu yang menyinari ruang gelap, memberi sedikit cahaya, aku terlelap, memimpikan sesuatu yang indah, indah sekali.

“Cuma itu? Secepat itu kamu marah Cha?” seru Rizka padaku, sudah kuduga ini bukan ide yang baik.
“nggak marah, Cuma kesel aja dibohongin……” aku tersenyum, berharap Rizka tak besar mulut, menyampaikannya pada ustadz. Rizka menatapku aneh dan berlalu. Aku memainkan pensil biru itu, menatap ke arah langit-langit kelas, teriakan teman-teman sekelasku terdengar hingga perpustakaan. Seperti sudah tradisi saja, setiap pelajaran kosong, mereka akan bermain, sekarang pelajaran TIK, ustadz Pian belum juga menjejakkan kakinya di kelas ini. aku tak terlalu memperdulikannya hatiku masih kesal dengan ustadz. Afif, pasti sebentar lagi namanya akan terdengar, kemarin Afif tidak datang mengambil hadiah. Benar saja! Terdengar suara ustadz dari kantor memanggil Afif, aku hanya menatap langit-langit kelas berharap setelah ini akulah sang juara. aku berjalan menyusuri gang menuju rumahku, wajahku menunduk, memikirkan lomba itu.
“Bukankah aku telah mengikutinya dua kali?Ttapi kenapa aku belum memenangkan lomba itu hingga kini? Bukankah aku telah akrab dengan komputer sejak kecil?”  berbagai macam pertanyaan muncul di benakku. Saat sampai di rumah, aku membuka seragam sekolah, menggantinya dengan pakaian bermain, duduk di kursi teras dan mulai memandang langit, pikiranku kembali ke peristiwa kemarin, di hatiku masih terselinap kekesalan yang sangat dalam.

Pagi hari ini, aku belum dapat melupakan kejadian itu, kakiku seperti tak ingin berjalan ke sekolah. Aku berjalan memasuki kelas, perlahan tapi, pasti nyampe. Setelah itu barulah aku keluar, tapi tak mengikuti iftitah. Aku memandang sekitar, berharap ada yang bisa membuatku kembali semangat.
“Icha……” panggil Hafidz mengagetkanku, aku terlalu asyik melihat adik kelasku. Aku menoleh dan tersenyum padanya.
“Ada apa??”
“Ikuti iftitah……” seru Hafidz sambil berlalu, aku tak memperdulikannya, hingga iftitah selesai, aku berjalan lesu, masuk kedalam kelas. Ustadz Fendi memasuki kelas dan mulai mengajar, memberikan tugas, dan duduk menunggu. Satu persatu soal sudah kukerjakan, aku memberikannya kedepan.
“Sudah Nisa??” Tanya ustadz, aku mengangguk pelan. Dan kembali ke tempat dudukku. Aku mengambil dua lembar kertas kosong, dan mencoret-coret kertas itu hingga menjadi sangat kotor, aku ingin pulang. Di sekolah aku tak akan dapat melupakan kejadian itu, setiap memasuki perpus, aku akan melihat piala Afif. Ketika istirahat tiba, aku segera keluar, duduk di teras lokal sambil menjilati es yang baru kubeli, kulihat ustadz Fendi pergi bersama Aziza dan Randa, pasti mereka akan mengikuti lomba, aku selalu sedih ketika melihat piala-piala berbaris rapi di lemari kantor, tapi tak satupun piala itu hasil kemenanganku.
“Hey…..” Intan memegang pundakku
“Kenapa?” tanyaku santai
“Jangan melamun, ohya, udah dibuat belum??”
“nggak kok, siapa yang melamun? Apa yang udah?”
“Ceritanya, cerpen untuk ustadz Fendi??”
“Ntahlah…..” aku menjawab sambil berlalu, Intan menatapku aneh, tak mengerti apa yang terjadi denganku.  Sampai di rumah, aku kembali mengambil diaryku, mencoret lembar kosong yang masih tersisa, habis lembar kosong itu, aku membuka lembar sebelumnya. Membaca ulang kembali apa yang kurasakan selama ini. kebanyakan isi diaryku adalah kekalahan, tapi aku santai saja menghadapinya saat itu. Aku ingat saat pertama kali aku mengikuti lomba TIK, ibu terus menyemangatiku agar tidak putus asa.
“Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita, walau jelek di mata manusia, InsyAllah kita bagus di mata Allah…..” Dan saat aku kalah mengikuti lomba Tahfidz.
“Itu artinya hafalan Icha belum lebih bagus dari anak sd lain, perhatikan makhroj huruf dan tajwidnya bila menghafal……” Saat aku kalah lomba pada saat milad sekolahku.
“Tidak perlu bersedih, ntar siapa yang menang saat ini akan melihat Icha menang tahun depan……” Saat try outku jauh dari sepuluh besar dan saat aku memandang kebawah bukan ke atas.
“Walaupun Izzah di bawah Icha tapi jangan terlena, kalo Icha terus melihat kebawah, bisa-bisa Icha menetap disana atau malah turun. Tapi, kalo Icha melihat keatas, InsyaAllah nilai Icha langsung loncat jadi nomor satu…..” Dan kemarin saat aku menangis menyesali kekalahanku.
“Menang kalah itu hanya pandangan manusia, Icha sudah mengikuti saja Icha sudah luar biasa, luar biasa dari semua yang batal mengikuti lomba itu dan keuntungan terakhir Icha mendapatkan ilmu……” aku tersenyum mengingat semua nasihat ibu, lembut tutur ibu dalam menasihatiku, bagiku. Ibu lebih dari seorang Mario Teguh yang terkenal sebagai motivator hebat, ibu lebih dari seorang Andrie Wongso yang sering dijuluki motivator nomor satu di Indonesia. Mulai sekarang aku akan bangkit! Aku pasti bisa mengukir senyum indah di wajah cantik ibuku! Sekarang, kuputuskan tak ada lagi kata putus asa! Aku akan bangkit dari ketidak percayaan dan sekarang, aku akan keluar dari lubang kekalahan yang gelap gulita tanpa cahaya kemenangan dan kepercayaan! Terimakasih ibu, engkaulah motivatorku.

Minggu, 09 Oktober 2011

Surat Untuk Bunda

Maaf Nanda Bunda......







Bunda.....
Hari ini nanda curahkan isi hati nanda tentang bunda lewat untaian kata ini......
Bunda, mungkin bunda sudah bosan melihat wajah nanda  karena kenakalan, kemalasan & kecerobohan nanda......
Bunda, nanda tak pernah bermaksud jahat pada bunda....
Tak pernah terbesit di pikiran nanda, Bunda Jahat...... 
Nanda tak ingin bunda pergi dari rumah ini, maaf atas kelakuan nanda yang selalu membuat bunda menitikkan air mata......
Bunda, maafkan nanda jika kata-kata nanda seringkali membuat bunda sedih dan kecewa......
Bunda, maaf jika nanda tak pernah bisa membanggakan bunda.....
Bunda, maaf jika nanda tak bisa meraih prestasi seperti yang bunda inginkan......
Bunda, maaf jika nanda selalu membuat bunda kecewa.....
Membuat bunda menjadi tak ingin menceritakan nanda pada satu orangpun.....
Bunda, izinkan nanda melihat senyum bunda.....
izinkan nanda mengusap airmata bunda......
izinkan nanda mengukir sebuah senyum kebanggaan di wajah bunda.......
kata maaf dan terimakasih tak akan berhenti nanda ucapkan.....
bunda harus tau, betapa nanda mencintai bunda.....
betapa besarnya rasa bersalah nanda pada bunda......
bunda, maafkan nanda yang tak bisa menjadi seperti yang bunda inginkan......
maafkan nanda yang belum membuat bunda bahagia atas kehadiran nanda........ 



Bukan Berarti Kalah

“Dear diary, hari ini Icha lomba lagi, hari ini Icha akan menghadapi tantangan lagi. Diary, terimakasih ya udah mau denger  semua pengalaman lomba Icha, Icha tidak tahu apakah besok Icha akan berdiri di atas panggung itu? hanya Allah yang tahu. Icha hanya bisa berusaha……..” Icha menutup diary kecilnya, diary kuning yang dibelinya bersama Dilla, salah seorang temannya. Icha mempunyai dua diary, yang satu lagi bergambar Mickey Mouse, tempatnya mencurahkan semua keesalannya terhadap teman sekelasnya. 


 Icha meletakkan diary itu di bawah kasurnya dan beranjak dari kamarnya, mandi lalu bersiap untuk pergi ke lokasi perlombaan. Setelah berjam-jam pembukaan, Icha duduk di depan ruang lab komputer, jantungnya berdegup kencang. Perlombaandimulai, Arif, Naufal, dan Ainul. Memasuki lab komputer. Sedangkan Icha, Fadhel, Afif, dan Fathur duduk manis menunggu giliran mereka di gelombang 2 dan 3.
“Afif, coba lihat catatannya………..” Ujar Icha pada Afif yang sedang membaca ulang latihan kemarin, Afif memberikan catatan itu, Icha menghafalnya kembali, dia rasa seperti inilah soal yang akan keluar, tahun kemarin Icha juga sempat mengikuti lomba ini. Dia masih ingat semua kejadian sebelum, saat, dan setelah lomba, walau sudah setahun yang lalu. Setiap peristiwa lomba yang diikutinya, selalu diingatnya. Mungkin itulah pengalaman yang paling berkesan untuknya, yang menjadikan dia semakin semangat mengikuti berbagai macam lomba adalah kekalahan. Icha seorang yang tidak mudah putus asa, dia akan memberikan yang terbaik untuk semua, kalaupun kalah, dia akan mencobanya kembali. Saat Icha sedang asyik membaca ulang kembali latihan kemarin, Hafidz mengagetkannya, sahabat Icha sejak kelas 4.
“Icha, belum mulai ya??”
“Hah? Apa? Oh, belum Fidz, aku gelombang tiga, sekarang masih gelombang pertama……”
“Lama ya? Mana ustadz Pian??”
“Nggak tahu juga tuh, dari tadi aku sms nggak bales, kalo ditelfon baru bisa dihubungin, isyarat pesannya kekecilan kali ya?? Kamu sudah Fidz?? ”
“Ya, betul…… betul…… betul…….”
“Final masuk nggak??”
“Wuuih, tentu masulah, Hafidz gitu lho!”
“Ya, sudah, latihan lagi sana, bareng Izzah atau Dioz……..”
“Bye……..” Hafidz berlalu pergi, dia tersenyum kecil melihat sahabatnya yang super lucu itu. gelombang satu selesai, Ainul keluar dari lab komputer dan mencari Icha, menyampaikan sebuah berita penting, kelihatannya.
“Icha, drawing toolbarnya kok nggak ada??”
“Ya, mana tau aku, aku bukan petugasnya, aku peserta……..”
“Beneran nggak ada Icha…….”
“Yang dipake office dua ribu tiga atau dua ribu tujuh??”
“Dua ribu tiga…..”
“Gimana ya? Kalo office dua ribu tiga aku udah banyak lupa, latihan maren makenya dua ribu tujuh…..”
“Ya sudah, sms ustadz aja…..” Afif mengagetkan Icha dan Ainul.
“Oh, ya……” Seru Fadhel dan Fathur.
“Cepat sms Cha, sebelum gelombang tiga dimulai…….”
Icha berlari ke belakang kantin, kebetulan ada Dioz disana dengan heran ia bertanya pada Icha.
“Icha, ada apa? Kok kayaknya penting banget gitu?”
“Gawat, Yoz, aku sms ustadz dulu…….”
“Ehm, Icha dah berani nih deket ama ustadz lagi, nggak takut diejek lagi??”
Dioz jahil mengganggu Icha, Icha tak memperdulikannya, lama ICha menunggu balasan dari ustadz. Gelombang ke 2, sudah memasuki lab komputer, Dioz masih makan mie di kantin, final lomba scrabble dimulai 2 jam lagi.
“Icha, telfon aja ustadz, gelombang kedua udah masuk…….”
“Telfon? Kamu ada pulsa yoz??”
“Lah, emang kamu nggak ada pulsa??”
“Ada sih, tapi……”
“Ah, banyak omong, telfon aja sekarang…….” Icha mengangguk, menekan tombol dan menelfon ustadz.
“Halo, Assalamu’alaikum?”
“Ustadz, temen yang lain pada nanyain Icha, Icha nanya ke Afif dia juga nggak tahu, Icha kebanyakan udah lupa office dua ribu tiga……”
“SekarangIcha dimana? Lombanya sudah??”
“Di RSBI tadz, belum, Icha gelombang tiga…..”
“Afif gimana? Udah belum??”
“Afif, bareng Icha, ustadz dimana sekarang? Kok nggak ngawas dari pagi??”
“Ustadz kuliah nak, nanti ustadz kesana tapi Cuma sebentar, itu juga kalo dapet izin….”
“Iya tadz, iya…..”
“Ya, sudah, Assalamu’alaikum……”
“Wa’alikumsalam……” Icha setengah berlari kea rah Fadhel, Fathur dan Afif, tersenyum dan memberitahu mereka bahwa ustadz akan datang. Sekarang pukul 12.05, itu artinya sudah saatnya sholat Dzuhur, tapi, adzan belum juga terdengar. Saat mereka seang menunggu adzan Dzuhur dekaligus giliran, saat itulah ustadz datang dengan membawa tas hitam.
“Icha…..” panggil ustadz, Icha menoleh dan setengah berlari kea rah ustadz, Afif, Naufal, Fathur dan Ainul. Semua peserta lomba TIK dari SDIT cepat menggerumuni ustadz, Ima menyikut Icha dan tersenyum sambil melirik ustadz Pian.
“Apa sih??” Icha sedikit kesal dengan ulah teman sekelasnya, bahkan akhir-akhir ini, anak kelas B, ikut-ikutan mengganggunya jika bertanya pada ustadz. Entah apa alasan mereka, yang jelas ulah mereka membuat Icha semakin malas bertanya pada ustadz. Dia hanya berani bertanya pada ustadz secara tidak langsung. Setelah bertanya banyak hal mengenai lomba, mereka duduk kembali di kursi yang telah disediakan. Ustadz menyapa alumni SDIT yang bersekolah disana, sementara Icha dan teman-temannya asyik bercanda, apapun akan jadi bahan tertawaan mereka. Sedikit haus, Icha berjalan ke kantin untuk membeli minum, tanpa sengaja, ia mendengar sedikit percakapan antara ustadz dan salah seorang alumni SDIT.
“Kalo mereka bingung, bantu aja murid ustadz ini ya…..”
“InsyaAllah ustadz, kami juga nggak tugas ngawas lomba TIK…..” mendengar itu, Icha tertawa lucu, sambil meminum teh dingin yang baru saja dibelinya.  Icha menatap taman RSBI yang tertata rapi, ia melihat ke sebuah kandang dekat kolam RSBI, hewan yang disebut ayam. Sudah biasa kulihat, tapi yang ini sangat unik, tuguhnya kecil dan pendek.
“Dek Icha……” suara seseorang  mengagetkan Icha, ia  berusaha mencari asal suara itu, kulihat seorang laki-laki tinggi, berjaket hitam, berkulit putih, hidung mancung dan memakai kacamata. Orang itu tersenyum,  Icha membalas senyumnya dan berusaha mengingat siapa dia.
“Oh, bang Rian…….” Seru Icha mengagetkan Ainul,Icha tertawa melihatnya.
“Ustadz kuliah dulu ya……” ustadz berujar pada mereka
“Iya ustadz…..” balas Ainul dan Fathur berserempak.
“Titi Dj tadz…..” seru Afif dari belakang.
“Hati-hati di jalan tadz…..” Icha menyambung, ustadz tersenyum dan berlalu pergi. Tak lama, sekarang saatnya kelompok Icha mengerjakan tugas lomba, tangan Icha mulai gemetaran, ia gugup. Satu persatu soal dikerjakannya, belum ada peserta yang selesai. Keahliannya mengetik membuat waktu yang dibutuhkan olehnya tak begitu lama.
“Bismillah……” gumamnya.
“Kak, sudah……” ujarnya pasa seorang pengawas yang juga alumni SDIT.
“Tanda tangan disini dan boleh keluar, pengumuman bersok……” pengawas itu memberikan selembar kertas hps dan sebuah pena. Icha menulis namanya dan menanda tanganinya. Icha keluar dari lab komputer, sudah sedikit lega. Sampai di rumah, sudah pukul 05.00 Icha membuka buku TIK dan berusaha mengingat yang ia kerjakan tadi, ia tersenyum dan saat jarum jam menunjukkan pukul 09.00, Icha memasuki kamarnya. Saat hendak menutup matanya, hpnya bordering, sebuah sms masuk.
“Bagaimana lombanya Icha? ” pesan dari ustad Pian, setelah membaca Icha membalasnya.
“Alhamdulillah ustadz, yang belum selesai hanya Naufal dan Ainul, yang lain Alhamdulillah selesai……” Icha mengirim pesan itu lalu memejamkan matanya. Seperti biasa, pagi hari Icha bersiap untuk ke sekolah, sampai di sekolah ia akan duduk manis di kelas sambil bercerita. Iftitah dan pelajaran dimulai. Hari ini hari kamis, itu artinya, hari inipun pulang pukul 04.00. hari ini Icha lebih banyak diam, Icha juga tak banyak bermain. Tapi, saat di perjalanan pulang wajahnya tak lepas dari senyuman.
“Icha, ajak Afif kls 6 ke RSBI skrng…..” seperti itulah sms ustadz Pian yang membuat Icha GR. Dia sudah senang, sangat senang. Ia menduga bahwa ia memenangkan lomba itu, tapi Allah maha tahu segala yang baik untuknya. Begitu sampai di rumah, Icha langsung ke RSBI tanpa mengganti baju, ia hanya meletakkan tas, ia berlari kea rah Rizka tersenyum dan bertanya.
“Apa aku menang??” Rizka hanya menggeleng, wajahnya cemberut.
“Terus??”
“Afif yang menang, awalnya aku juga kaget nggak percaya, padahal Icha pintar yang namanya komputer…..” wajah Icha berubah murung, ia sedih karena ternyata ia gagal. Berusaha menahan air mata yang sejak tadi bertengger di pelupuk matanya, Icha bertanya kembali pada Rizka.
“Kamu?”
“Tidak, ini milik kak Yais….”
“Terus?”
“Aku hanya menemani Izzah……” aku berlari kea rah ayahku, menunggu sebentar dan buru-buru pulang. Di rumah, Ayah dan Ibunya tak henti menghibur dan menyemangati Icha.
“Kemenangan bukan segelanya……..”
Air mata Icha tak bisa terhenti. Di sekolah, ustadz dan ustadzahpun menyemangatinya. Tapi, tidak temannya, mereka terus mengejek Icha.
“Ustadz izin hanya untuk kalian, bersyukur……”
“Iya, aku aja yang lebih penting dari TIK nggak diperhatiin bener…..” entah apa lagi kata-kata tajam yang terlontar dari mulut temannya, membuat Icha sedih dan sakit sekali. Dari semua itu, kata yang paling sering didengarnya dari motivatornya yang luar biasa adalah kata sederhana penuh arti.
“Kita kalah, bukan berarti kalah sepenuhnya, tapi kita kalah untuk menang, menang berani tampil, menang dapat ilmu, dan banyak lagi yang menyebabkan kita menang dari orang lain, Allah tak akan membiarkan hambanya menangis Cha, yang penting kita sudah berusaha…….”


Rabu, 05 Oktober 2011

Cinta Hani Untuk Allah

                Sehari setelah perkenalan itu, Hani makin dekat saja denganku. Aku sangat menyayangi Hani. Hani anak yang baik, tapi aku tidak tahu bagaimana Islam Hani. Saat itu, aku sedang bersama Yayas dan Mia. Dua adik sepupuku ini sangat manja sekali, dimana saja.
“Kak, Mia tadi di kelas buat surat untuk Tika……” Yayas berujar padaku.
“Iya? Surat apa?” aku bertanya pada Yayas, sambil sedikit melirik Mia.
“Suraat…….” Mia segera merogoh tasnya, mengambil sebuah amplop putih. Tiba-tiba Hani datang, ia duduk di pangkuanku, kedekatanku dengan Hani terkadang membuat dua adik sepupuku ini protes. Aku memeluk Hani sejenak, mengambil amplop surat Mia dan mulai membaca.
“Tika suka sama Osa?” tanyaku pada Mia sambil menutup kembal amplop itu. 


Mia mengangguk pelan, Yayas hanya tersenyum jahil pada Mia. Hani dari tadi hanya menatap lagit biru yang luas.
“Rifky udah punya pacar dirumahnya Yas, hati-hati aja……” Mia tersenyum, sifat jahilnya kambuh.
“Iya, itu pacarnya, si Yayas…….” Aku menunjuk Yayas.
“Bukan kak, ada pacarnya Rifky dirumah, Yayas juga tahu…..” Yayas menyahut.
“Playboy dong??”  aku tersenyum
“Ih, Osa juga kok……..” Yayas tak mau kalah.
“Osa  juga??” tanyaku pada Mia, aku heran dua adikku ini sudah punya pacar semua, mereka masih terlalu kecil.
“Iya, bener kata Yayas…..”
“Kok masih mau??” Yayas dan Mia hanya tersenyum kecil, bel istirahat belum berbunyi. Itu artinya, aku bisa menemani mereka hingga dijemput. Aku bercakap sedikit tentang Rifky dan Osa, Mia dan Yayas yang sok tahu, menjawab seenaknya. tak lama, datanglah Dadan menjemput Yayas dan Mia. Sejenak tempat itu hening, aku dan Hani sama menatap langut biru. Memecah kesunyian, aku bertanya pada Hani iseng.
“Udah punya pacar belom Hani??”
“Nggak punya……”
“Suka sama siapa?”
“Nggak ada……”
“Sayang??”
“Nggak juga……”
“Ini aja deh, Hani cinta ama siapa hayoo??”
“Hani nggak cinta sama siapa-siapa kak, cinta Hani hanya satu dan hanya untuk Allah…….” Jawaban Hani membuatku terdiam, aku membelai kepalanya lembut dan tersenyum. Aku bangga dengan jawaban Hani, Hani tak seperti teman-temannya yang sibuk dengan urusan pacar, aku bangga dengan Hani, aku bangga bisa dekat dengan Hani. Cinta Hani hanyalah untuk Allah. Hanya satu, untuk Allah.  Jawaban yang jarang sekali didapatkan dari seorang anak orang kaya yang tak begitu memperdulikan agama. Jawaban yang jarang sekali dipikirkan oleh seorang anak kelas satu!


Kisah Nyata Yang Kualami, Jawaban Nyata Yang Kudengar Dari Seorang Hani, Anak kelas Satu A, Angkatan Ke 9

Kamis, 29 September 2011

Teman


Disaat matahari mulai menghilang....................

Disaat langit mulai menghitam..............

Hati ini kembali gelisah..............

Hati ini kembali Hitam..........

Hati ini kembali muram.............

Disaat itulah kau datang dengan senyummu.................


Disaat itulah kau datang dengan hati tulus............ 


Teman..........


Kau datang tepat dimana aku membutuhkanmu.............


Kau menabur bintang di hatiku.............

Memberi cahaya malam di hatiku..........

Menebar Kesejuan angin malam di hatiku..........


Tuhan............


izinkan aku mendengar ceritanya...............

izinkan aku mengusap air matanya............

izinkan aku melihat senyumnya...............

izinkan aku mendengar tawanya...............

izinkan aku mendekap tubuhnya....................

izinkan.........

mohon tuhan............... 

kembalikan kesempatan itu....................





Senin, 26 September 2011

Akhir Sahabat


            Kejadian yang terjadi dua tahun lalu ini terus kuingat, pada hari dimana itulah hari terakhirmu sobat, hari yang mengingatkanku akan janji Allah, bahwa semua makhluk tanpa terkecuali akan meninggalkan dunia fana ini, ingin aku meraung sejadi-jadinya engkau meninggal tepat di depanku dan surat akhirmu, tubuhmu terjatuh dan terbaring tak berdaya di ruang kelas, lokal ini menjadi tempat terakhirmu di dunia ini. Saat itu kau sedang menulis sebuah surat di atas kertas berwarna hijau muda kesukaanku. Kau asyik dengan tulisanmu, bahkan saat menjawab pertanyaanku kau tak menoleh sedikitpun padaku.
“Ngapain Riz??”
“Surat untukmu, bisa dibaca kalo udah selesai nanti…….”
“Kemana penaku??”
“owh, ini……..” Fariz merogoh kantung tasnya, tapi tak dia temukan, ia mengingat apa yang dia kerjakan tadi lalu berkata.
“Sudah kukembalikan…….”
“Belum Riz, ayolah, berikan padaku itu tanda sahabat kita, itu sangat berarti bagiku……”
“Sudah, tadi Azzam lihat, Tanya saja…..” berkata Fariz dan kebetulan di saat itu Azzam melewati kamu, aku memanggil Azzam.
“Ada apa Man?” ujarnya lembut, sifat ramah dan murah senyum membuatnya terkenal hingga ke ujung sekolah.
“Apa tadi kamu melihat Fariz mengembalikan penaku??”
“Oh, pena yang bertuliskan Fazman itu??”
“Iya, betul itu…..”
“Seingatku sudah, saat Fariz mengembalikan kamu sedang menggambar……..” 
“tapi itu tidak ada…..”
“Ya sudah Man, nanti biar kuganti pena itu…..” Fariz santai, aku curiga apa dia berbohong sudah mengembalikan penaku?
“Tidak, aku tak menginginkan gantinya…….” Belum selesai berbicara datang Hafidz menyalamiku, aku sedikit heran. Ada apa?
“Selamat ulang tahun ya Man, semoga jadi anak cerdas, berbakti dan umurmu berkah…” ujar Hafidz melontar senyumnya. Aku ingat hari ini adalah ulang tahunku, tapi, apa yang diberikan Fariz untukku? Dia sama sekali tak menghargai persahabatan ini, saat dia ulang tahun, aku memberikan sebuah novel yang sudah diidamkannya sejak awal novel itu beredar. Aku rela walau aku harus berjualan Koran dari pulang sekolah hingga sore, terkadang aku merasakan dinginnya hujan, Fariz sahabat yang tak tahu terimakasih, dia hanya berucap selamat? Aku tak percaya ini Fariz?

            “Azman tunggu aku……” Fariz mengejarku
“untuk apa? Bukankah kamu bisa pergi ke kantin bersama Azzam?? Azzam lebih penting dari aku!” Fariz terkejut dengan sikapku, aku setengah berlari ke kantin dia terus mengikutiku.
“Apa?!” seruku sambil berbalik ke belakang, Fariz menatapku
“Azman, jelaskan apa salahku? Masalah hadiah? Hari ini juga akan kuberi Man, apa karena hadiah saja kau berubah secepat itu?” Fariz memelas, sedikit kasihan tapi aku tak memperdulikannya aku duduk di bangku kantin Fariz mengikutiku.
“Kembalikan pena itu, pena itu berarti untukku……” ucapku sambil menunduk
“aku berjanji akan mendapatkannya hari ini juga……” balasnya dia menjulurkan tangannya ingin bersalaman, tak kuhiraukan aku segera pergi ke dalam kelas, aku melihat kekecewaan di wajah Fariz melihat perubahanku, memanfaatkan waktu dia mencari penaku di kelas, aku tak menghiraukannya.
“Terserah kau Fariz!! Kau tak menghargai pemberianku!! Kau menghilangkan pena kesayanganku!!” aku berteriak dalam hati, kekesalan ini bertambah dengan adanya dorongan setan. Sebenarnya ada rasa kasihan dalam hati ini, ingin kubantu Fariz mencari pena itu. Tapi, alangkah malunya aku, apa yang akan dikatakan teman-teman tentangku? Aku tak menghiraukannya mengambil kertas dan mulai mencorat-coret kertas itu. Bel berbunyi, Ustadz Anto memasuki kelas, dengan senyum dia menjawab salam dari kami, pr dikumpulan, ustadz Anto akan memeriksanya sementara kami bebas bermain asalkan tak terlalu ribut, Fariz tetap sibuk mencari pena itu, dia mencari tanpa menghiraukan penggilan dari siapapun kecuali aku dan ustadz, dia tak memperdulikan panggilan sombong padanya. Aku terharu melihat pengorbanan Fariz, titik-titik bening telah memenuhi pelupuk mataku, tapi aku terus berusaha untuk tidak menangis. Tiba-tiba bumi bergoyang, semua segera keluar membawa peralatan belajar mereka, aku menarik Fariz untuk keluar.
“Ayo Fariz! Guncangan ini kuat sekali, nanti kita tertimpa bangunan!” seruku
“tunggu, itu penanya……..!” Fariz berlari mengambil pena kesayangaku itu dan kembali ke tempat duduknya, mengambil surat tadi dan sebuah kotak. Bangunan mulai runtuh jarak bangku Fariz ke pintu cukup jauh, kami segera berlari tapi sebuah bangunan runtuh di belakang Fariz membuat kakiku bergetar dan sangat kaku untuk berjalan. Atap kelas kami akan terjatuh, Fariz mendorongku dan melempar surat, pena dan kotak yang berbungkus kertas kado warna hijau muda, kakiku masih kaku untuk digerakkan, Fariz tertimbun reruntuhan bangunan. Aku terududuk! Fariz telah pergi! Bumi perlahan kembali seperti semula, air mataku tak dapat ditahan, aku menangis sejadi-jadinya.
“Fariiiiz………” bibirku bergetar, Azzam menghampiriku.
“Bukan hanya Fariz yang tertimbun, Hafidz, Ustadz Anto dan Asywa di dalam……” air mata Azzam menetes. Berkali-kali dia mengucapkan Hamdallah bersyukur dia masih diberi nyawa.
“Asta..ghfiru..llah…….” aku terdendat mengucap istighfar, aku tak percaya semua ini! setelah semuanya tenang, aku pulang kerumah membawa pena, surat dan kotak kecil dari Fariz, jenazah Fariz sudah berada di rumah sakit, aku harap dia bahagia. Di jalan, air mataku tak dapat kuhentikan, bagaimana tidak! Fariz menyelamatkanku! Sia juga masih sempat memberi surat dan pena kesayanganku! Aku duduk di teras rumahku, adikku tidak apa-apa aku bersyukur, ummi dan abi sedang pergi ke rumah nenek, yang sudah dipastikan tidak akan terkena guncangan dahsyat itu. Perlahan kubuka kotak kecil itu, di dalamnya terdapat sebuah kotak musik yang melantunkan lagu Snada-Teman sejati, air mataku kembali membanjir setelah membaca surat dari Fariz.
“Azman, sahabat baikku, maafkan aku, hanya ini yang dapat kuberikan padamu, jika kita akan berpisah nanti, kuharap kau tak lupa denganku, tak banyak kebaikan yang kulakukan untukmu, hanya ini yang dapat kulakukan untukmu Man, Jazakumullah khairan katsira atas semua kebaikanmu sobat, di hari ulang tahunmu ini, kuharap kau bahagia untuk selamanya. Walau nanti kita tak dapat bertemu kembali……… salam hangat persahabatan Fariz” 
“Ya Allah, aku tak ingin pena ini, aku ingin sahabatku, ya Allah kembalikan Fariz, ambilah nyawaku, dia terlalu baik tuk disakiti ya Allah, aku belum sempat meminta maaf padanya ya Allah……..” aku berteriak dalam hati, seandainya saja aku mengetahui ini yang akan terjadi, aku akan biarkan pena itu hilang, sungguh baik hati Fariz, dia menghadiahkan nyawanya untukku, berilah dia tempat terbaik di sisimu ya Allah. Amiin.

Jumat, 30 Desember 2011

Maaf


Heemmm….
Pengen banget minta maaf sama semua, walaupun Icha nggak punya salah. Buat salah, lalu memohon agar orang itu memaafkan Icha, Huft! Maaf buat semua lagi, terutama ayah dan ibu dan temen-temen yang udah Icha buat marah. Hingga saat ini, belum ada yang faham betul Icha, semua temen yang Icha kenal saat ini pun, sangat susah Icha percaya dengan mereka. Bagaimana tidak? Mereka sudah berjanji akan diam soal apa yang Icha ceritakan, tapi, saat Icha tidak ada. Mereka menceritakan semua, memang saat mereka menceritakn itu Icha tidak tahu. Tapi, Allah selalu memberi tahu Icha, ada saja yang berbaik hati memberitahu Icha, atau Icha dengar sendiri. Huft! Tenang-tenang, ayo Icha minta maaf sama orang-orang itu. Hadeuuh!!

Kamis, 22 Desember 2011

Ibu??

Hari ibu.
Hari ini hari ibu? maaf ya bu, Icha nggak pernah ucapin selamat buat ibu. Nggak seperti anak lainnya, yang datang dengan sekuntum bunga ataupun dengan sebuah kado. Dan memeluk ibu mereka lalu berkata.
"Selamat hari ibu ya ma, ini buat mama." Icha nggak pernah buat ibu senyum, yang ada Icha buat ibu sedih. Maaf bu, Icha nggak pernah bermaksud buat ibu sedih, Icha sayang ibu. Icha janji, akan berikan yang terbaik buat ibu. Bu, jangan menangis lagi, Icha mohon. Ibu sudah mengorbankan segalanya buat Icha, kalau Icha sudah besar dan sukses nanti. Icha akan berikan segalanya untuk ibu. Icha tahu, itu semua tidak sebanding dengan semua pengorbanan yang ibu beri untuk Icha. Maaf bu, tidak ada yang bisa ibu banggakan dari Icha, Icha juga tidak tahu. Kenapa semua ini? Icha tidak pernah menjadi nomor satu diantara teman-teman, Icha tidak pernah membuat ibu tersenyum. Dan yang paling menyedihkan, Icha tidak menangis, hati Icha tidak tersentuh ketika mengingat dosa Icha pada ibu dan juga ayah. Bukan bu, jangan sedih lagi. Itu bukan salah ibu dan ayah. Ini salah Icha sendiri, menjadi anak yang tidak tahu apa-apa, tidak berguna. Bu, maafkan Icha, Icha mohon jangan menangis. Allah, biarkan ibu di sini bersama Icha dan keluarga. Jangan biarkan ibu sakit, ibu, tolong dengar Icha. Icha cinta ibu. Icha sayangkan ibu, Icha akan beri segalanya buat ibu. Katakan Icha harus apa bu? Ibu, Icha janji, tidak akan pernah lagi Icha buat ibu sedih. Icha akan berusaha jadi anak yang sholeha, yang berbakti yang cerdas dan pintar. Bu, percayalah, Allah akan member yang terbaik, untuk malaikat yang sangat baik seperti ibu. Allah, hilangkan segala kesusahan ibu, berikan yang terbaik untuknya, sejuk dan damaikanlah hatinya, biarkan ia melangkah menggapai ridhomu. Hapus air matanya Allah, Icha tidak sanggup melihat ia menangis. Bu, Icha terimakasih. Atas segalanya. Anakmu ini, hanyalah seorang bodoh yang tak bisa apa-apa, Icha mohon, jangan bandingkan lagi Icha dengan anak lain. Yang hebat, yang cerdas, dan yang pintar. Itu akan membuat ibu bertambah sedih bu, Icha juga pasti menjadi anak minder. Bu, Icha tahu, Icha banyak salah. Maafkan Icha, Icha mohon bu, di sana nanti. Icha akan menimba ilmu, Icha janji akan mengantarkan ibu dan ayah melangkah menggapai ridho Allah, Allah usap air matanya, Icha tak ingin lihat ia menangis. Bu, Icha janji akan berikan terbaik untuk ibu, akan icha buktikan itu. Icha tahu, itu tidak akan berarti apa-apa, tapi paling tidak. Cukup untuk membuat ibu senang, dan cukup membuat Icha puas menjadi diri Icha sendiri.Bu, dengarlah, ibu adalah segalanya untuk Icha, tak akan ada yang bisa menggantikan ibu. Icha janji akan selalu menjadi yang terbaik untuk ibu."Allah, izinkanlah aku bahagiakan dia.."

Senin, 19 Desember 2011

Sepucuk Surat untuk Mujahid Kecil

Assalamu'alaikum w.w
saudaraku, aku bangga dengan kalian. Menghadapi Zionis La'natullah tanpa takut. Seandainya, aku terlahir bersama kalian di bumi Palestina, mungkin aku sudah bergelar Syuhada, dimana aku akan mendapatkan jiwa Mujahidah di sini?? Jika terkena pecahan beling saja aku sudah mengeluh sakit, meski tak menitiskan air mata tapi itu membuktikan kalau aku lemah! Aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kalian. Aku sering melihat kalian di layar monitor, meski itu hanya lewat CD yang diberi pamanku ataupun lewat youtube, kurasakan kesedihan. Aku harap, Allah memberiku jiwa kuat itu, jiwa mujahidah itu.
Aku harap, Allah memberiku kesempatan berjuang bersama kalian.
Saudaraku, aku tahu ada kesedihan dalam hatimu melihat saudara kecil kita tak sempat melihat indahnya alam ciptaan Allah.
aku tahu ada kesedihan yang menyelinap dalam hatimu kala melihat para ummi menitiskan air mata.
melihat para abi menjadi tahanan Zionis La'natullah.
kuharap aku masih diberi hati yang lembut oleh Allah, karena belakangan ini aku sudah tidak menitiskan air mata mengingat dosaku saudaraku. Bantu aku, bagaimana caranya mendekati Allah, melawan nafsu.
Salam dariku Ainur Hafidzah, ohya, jika ada salah satu dari kalian ke Indonesia, mampir ke rumahku ya? berbagilah denganku, ajari aku semua kebisaanmu.
Wassalamu'alaikum w.w

Jumat, 02 Desember 2011

Adik ImutKu Nih.!!



Fathurrahman Arviansyah

 Zikri Gusviansyah


Adikku ganteng semua, yang pasti cowok semua.. Dari dulu, aku pengen banget adik cewek, biar bisa aku ajak main bareng. Kalo adik aku ada cewek nanti, pasti mirip aku kecil. Hehehe ^_^






Peliharaanku

Wah, Alhamdulillah, senangnya. Ayam kate kecilku sudah menetas, 3 kate kaki bulu, 9 lainnya tidak, warnanya keemasan. Yang udah netas 7. Alhamdulillah ya Allah, imut-imut banget. Hihiii...



Rabu, 30 November 2011

Inilah PemeNang

Aku dan teman-teman sebentar lagi berpisah, Bismillah. Yang tinggal hanyalah kenangan masa lalu berwarna.
Narsisnya dua temanku ini, nggak akan bisa brhenti. Ini sehabis Dzuhur 2010, lho! inilah Rizka (Kiri) Dan Rizky (Kanan)









Habis KK (Kerja Kelompok) Happy Learning di Humznya Afifah, pada maen laptop.




Narsisnya Intan nggak nahan, pake hp siapa aja, pokoknya ambil gambar.
Intaaan, kok aku di ajak fotho juga??
Kali ini Dilla, aah.. Intaaaan!


Ustadzah Yetti pelit ah! tapi, beruntung Icha bisa ambil dikit. Hehehee.... Afwan ya ustadzah, 1 poin
kesalahan Icha hari ini. (Sabtu, 26 2011)
Rizka Narsis Abizz..


Aliya Neeh....


Sebelum berangkat, ayah fotho Icha dulu, senyum nggak ikhlas, lho!

Rabu, 23 November 2011

Allah Tak Akan Membiarkan Hamba-Nya menangis

Assalamu'alaikum sahabat, saya hanya ingin membagi pengalaman yang luar biasa ini. Pertama saya berterima kasih kepada Allah yang selalu ada untuk saya. Saya juga berterima kasih, atas Muhammadiyyah yang menghadirkan Ustadz Yusuf Mansur ke Curup ini. Setelah mengikuti pengajian ustadz Mansur, iri yang ada di hati saya. Karena ustadz Mansur selalu bercerita, mesranya kepada Allah dan juga dekatnya kepada Allah. Karena itu, saya acuh dengan perkataan ustadz Mansur. Tapi, entah bagaimana kata-kata ustadz Mansur lengket di otak saya. Saya hafal semua kata yang dilontarkannya. Selalu saya fikirkan kata "Pulang ke rumah saya Mencari Allah, untuk menceritakan semuanya seperti bercerita pada manusia" itu berarti, ustadz Mansur curhat pada Allah seperti pada manusia. Apakah bisa begitu? ustadz Mansur juga berkata dia selalu meminta kepada Allah, caranya sama persis seperti anak meminta pada orang tua. Memohon.
Hari Sabtu kemarin, Ustadzah meminta raport untuk dikumpulkan agar bisa di data. Sepulang sekolah, saya langsung mencari raport itu? saya membongkar semua yang ada di hadapan saya, rak buku, lemari pakaian, sampai kaleng kertas. Tapi, di manakah raport itu? Oh, Ya Allah, cemas sekali rasanya saat itu tapi hati ini tetap mengingatkan, "Allah selalu ada, Allah tak akan membiarkan hamba-Nya menangis" terus, terus. Waktu hanya tinggal beberapa hari lagi. Tapi esoknya, setelah melaksanakan tahajud disertai witir, hati begitu tenang. Tenang. dan Tenang. Tidak terasa gelisah, hati terkadang bertanya. Oh Allah, mengapa hatiku setenang ini? apa yang akan terjadi? mengapa aku ceria seperti biasa? bukankah harusnya aku merasa gelisah dan cemas atas raport itu? tapi, hati ini tetap tenang. Tenang sekali, aktivitas tidak terganggu. Keceriaan tetap ada pada tempatnya. Dan ketika sampai batas waktu, raport belum juga ditemukan. Hati tetap tenang, wajah tetap tersenyum. Seperti biasa, normal saja. Tibalah saat berangkat, saya hendak menaiki motor, tapi ummi memanggil, saya segera berlari memenuhi panggilan ummi, ummi memberikan sebuah buku yang tak tebal tak tipis, berkulit biru. SubhanAllah! itu raport yang di perlukan hari ini! Allahu Akbar!! Maha Suci Allah!! Tak berhenti saya mengucap Hamdallah dan Takbir. Setelah raport, yang hilang sekarang kertas lembar isian data diri untuk UN. Terakhir di kumpul besok, malam ini saya bolak balik mencari. Selesai maghrib, saya Berdo'a panjang, Mohon Allah Icha hanya ingin bantuan-Mu, Allah Icha tahu Icha hamba ingkar, Tapi, bantulah Icha menjauhi laranganMu, bantu Icha dalam usaha menggapai RidhoMu, CintaMu Allah, jangan biarkan Icha tenggelam ke dalam dunia fana ini ya Allah, ingatkan Icha tuk selalu beristighfar, Allah, Icha malu pada diri Icha yang tidak bisa menjadi hamba yang menepati janjinya, Allah bantu Icha mencari kertas itu, kertas itu Icha butuhkan untuk melanjutkan sekolah ke pesantren yang InsyaAllah, akan mencetak Icha sebegai Hafidzah dan ulama, yang akan membantu Icha memahami setiap kata dari kalamullah, kitabMu Allah, bantu Icha mencari kertas itu agar impian Icha sekolah ke Madinah tercapai, bantu Icha Allah, bantu Icha. Selesai, saya kembali mencari kertas itu, terus dan terus. Kali ini, hati gelisah dan kesal. Ummi terus mengulangi hafalan, saya mendatangi Ummi dan bertanya, tapi Ummi tidak tahu soal itu, bertambah kesallah saya, saya berjalan ke kamar, membongkar semua apa yang di berada di dekat saya, memeriksa satu per satu kertas yang ada di kamar, memeriksa setiap lembar buku dan kitab, tapi tidak ada, air mata menitis, sudah terlalu penat. Saya mengambil buku santri dan mulai mencari Do'a, membaca Do'a hafalan saya, dan duduk menangis. Munculah prasangka buruk pada Allah, terus hingga adik saya datang. Saya membentak dia, karena masih kesal. Berdiri dan kembali membongkar buku dan kitab. Tanpa sengaja, saya memegang sebuah kertas. saya buka dan SubhanAllah!! Allahu Akbar!! Air mata kembali menitis tapi kali ini perasaan takjub, Allahu Akbar! memang benar pernyataan itu, subhanAllah, dan kali ini. Alhamdulillah prasangka buruk itu hilang, Allahu Akbar!! Maha Besar Allah yang semua apa-apa di Bumi ini adalah Milik-Nya dan dalam genggaman-Nya. Allah maha kuasa atas segala yang di kehendaki-Nya.
Ini hanya pengalaman saya, saya harap ini menyentuh hati para sahabat.
Wassalamu'alaikum.

Jumat, 21 Oktober 2011

Motivatorku


 Randa bernyanyi di atas panggung itu, sang artis SDIT sekarang sudah populer di SMP 01 Curup Kota. Ingin rasanya aku menangis, sepertinya benar ustadz Pian membenciku. Tadinya aku terlampau senang, karena sms itu, aku membacanya berkali-kali, kukira aku memenangkan lomba itu, ternyata tidak. Seperti ditipu, hatiku sakit sekali, aku bisa menahan air mataku disana, Randa masih saja menyanyi, aku menghampiri Rizka, wajahnya tampak murung.
“Hai, Riz, ada apa??”
“Aku kalah……..”
“Piala itu………” aku menunjuk sebuah piala, bertuliskan ‘Juara 1 Lomba Olimpiade IPA’
“Ini punya kak Yais……..” Rizka menjawab lesu, aku tersenyum dan setengah berlari ke arah ayahku. Dari wajah dan sikapku, aku terlihat gembira dan semangat, tapi tak dihatiku. Kebetulan, ada beberapa teman ayahku disana, mereka sedikit bertanya tentangku, dan Alhamdulillah, mendapat beberapa pujian, walau begitu hatiku masih tetap murung, tak bisa tersenyum. Aku ingin pulang, ingin menuntaskan kesedihan hatiku. Melihat Randa yang akan bernyanyi kembali, aku mengatakan kepada ayah bahwa aku ingin mendengar suara Randa. Sedang asyik menikmati lagu yang dibawakan Randa, Izzah dan Rizka mengahampiriku.
“Kasihan banget ustadz Pian……..”
“Emang kenapa dia?”
“Ustadz udah bilang, Randa jangan suka nyanyiin lagu pop, tapi masih aja dilawan……..”
“Ya, terserah Randa dong, Randa juga cocok nyanyi gitu, udah keren, cakep, suaranya bagus…….” Ujarku sambil mengerutkan dahi, kulihat ustadz Pian menuju ke arah kami, aku segera berbalik dan berteriak kepada Izzah dan Rizka.
“Aku duluan…..” mereka saling pandang, tak mengerti. Aku segera mengajak ayah pulang. Ketika sampai di tempat parkir, ayah tersenyum dan bertanya padaku.
“Ada ustadz Pian terus pergi, gitu yah?” aku hanya tersenyum, sampai di rumah aku mengganti baju dan mulai membantu ibuku. Hatiku masih sedih, aku berusaha menghibur dengan mengkhayal, tapi itu malah menambah kesedihan. Aku bernyanyi, tapi tetap seperti itulah. Aku tak dapat menyembunyikan kesedihanku dari ayah dan ibu, mereka mengetahui betul sifatku, air mataku kembali mengalir, aku mengusap air bening itu.
“Sudahlah, memang bukan rezeki Icha…….”
“Kalo itu tidak mengapa bu……..” mataku mulai berkaca-kaca kembali
“Icha sudah biasa kalah bu…….” Lanjutku lagi, air mataku kembali membanjir, susahnya menenangkan hatiku.
“kok nangis terus??”
“Ustadz kok mau nipu Icha? Itu yang bikin Icha sedih, kok ngebohongin Icha, Icha tau udah sering Icha kalah mewakili sekolah, tapi masa harus dibohongin Ichanya?”
“Ustadz bukan ingin ngebohongin Icha, tapi pengen Icha lebih semangat karena melihat teman lain menang……” aku diam dan memasuki kamar, mulai menulis diary, tempatku mencurahkan isi hatiku, aku yakin akan mengurangi rasa sedihku walau sedikit. Matahari sudah mulai tenggelam, langit kemerah-merahan, indah sekali rasanya. Aku merogoh kantong celanaku, mengambil hp dan mulai menyusun kata, mengirim pesan itu untuk sahabatku Intan. Langit menghitam, bulan bagai lampu yang menyinari ruang gelap, memberi sedikit cahaya, aku terlelap, memimpikan sesuatu yang indah, indah sekali.

“Cuma itu? Secepat itu kamu marah Cha?” seru Rizka padaku, sudah kuduga ini bukan ide yang baik.
“nggak marah, Cuma kesel aja dibohongin……” aku tersenyum, berharap Rizka tak besar mulut, menyampaikannya pada ustadz. Rizka menatapku aneh dan berlalu. Aku memainkan pensil biru itu, menatap ke arah langit-langit kelas, teriakan teman-teman sekelasku terdengar hingga perpustakaan. Seperti sudah tradisi saja, setiap pelajaran kosong, mereka akan bermain, sekarang pelajaran TIK, ustadz Pian belum juga menjejakkan kakinya di kelas ini. aku tak terlalu memperdulikannya hatiku masih kesal dengan ustadz. Afif, pasti sebentar lagi namanya akan terdengar, kemarin Afif tidak datang mengambil hadiah. Benar saja! Terdengar suara ustadz dari kantor memanggil Afif, aku hanya menatap langit-langit kelas berharap setelah ini akulah sang juara. aku berjalan menyusuri gang menuju rumahku, wajahku menunduk, memikirkan lomba itu.
“Bukankah aku telah mengikutinya dua kali?Ttapi kenapa aku belum memenangkan lomba itu hingga kini? Bukankah aku telah akrab dengan komputer sejak kecil?”  berbagai macam pertanyaan muncul di benakku. Saat sampai di rumah, aku membuka seragam sekolah, menggantinya dengan pakaian bermain, duduk di kursi teras dan mulai memandang langit, pikiranku kembali ke peristiwa kemarin, di hatiku masih terselinap kekesalan yang sangat dalam.

Pagi hari ini, aku belum dapat melupakan kejadian itu, kakiku seperti tak ingin berjalan ke sekolah. Aku berjalan memasuki kelas, perlahan tapi, pasti nyampe. Setelah itu barulah aku keluar, tapi tak mengikuti iftitah. Aku memandang sekitar, berharap ada yang bisa membuatku kembali semangat.
“Icha……” panggil Hafidz mengagetkanku, aku terlalu asyik melihat adik kelasku. Aku menoleh dan tersenyum padanya.
“Ada apa??”
“Ikuti iftitah……” seru Hafidz sambil berlalu, aku tak memperdulikannya, hingga iftitah selesai, aku berjalan lesu, masuk kedalam kelas. Ustadz Fendi memasuki kelas dan mulai mengajar, memberikan tugas, dan duduk menunggu. Satu persatu soal sudah kukerjakan, aku memberikannya kedepan.
“Sudah Nisa??” Tanya ustadz, aku mengangguk pelan. Dan kembali ke tempat dudukku. Aku mengambil dua lembar kertas kosong, dan mencoret-coret kertas itu hingga menjadi sangat kotor, aku ingin pulang. Di sekolah aku tak akan dapat melupakan kejadian itu, setiap memasuki perpus, aku akan melihat piala Afif. Ketika istirahat tiba, aku segera keluar, duduk di teras lokal sambil menjilati es yang baru kubeli, kulihat ustadz Fendi pergi bersama Aziza dan Randa, pasti mereka akan mengikuti lomba, aku selalu sedih ketika melihat piala-piala berbaris rapi di lemari kantor, tapi tak satupun piala itu hasil kemenanganku.
“Hey…..” Intan memegang pundakku
“Kenapa?” tanyaku santai
“Jangan melamun, ohya, udah dibuat belum??”
“nggak kok, siapa yang melamun? Apa yang udah?”
“Ceritanya, cerpen untuk ustadz Fendi??”
“Ntahlah…..” aku menjawab sambil berlalu, Intan menatapku aneh, tak mengerti apa yang terjadi denganku.  Sampai di rumah, aku kembali mengambil diaryku, mencoret lembar kosong yang masih tersisa, habis lembar kosong itu, aku membuka lembar sebelumnya. Membaca ulang kembali apa yang kurasakan selama ini. kebanyakan isi diaryku adalah kekalahan, tapi aku santai saja menghadapinya saat itu. Aku ingat saat pertama kali aku mengikuti lomba TIK, ibu terus menyemangatiku agar tidak putus asa.
“Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita, walau jelek di mata manusia, InsyAllah kita bagus di mata Allah…..” Dan saat aku kalah mengikuti lomba Tahfidz.
“Itu artinya hafalan Icha belum lebih bagus dari anak sd lain, perhatikan makhroj huruf dan tajwidnya bila menghafal……” Saat aku kalah lomba pada saat milad sekolahku.
“Tidak perlu bersedih, ntar siapa yang menang saat ini akan melihat Icha menang tahun depan……” Saat try outku jauh dari sepuluh besar dan saat aku memandang kebawah bukan ke atas.
“Walaupun Izzah di bawah Icha tapi jangan terlena, kalo Icha terus melihat kebawah, bisa-bisa Icha menetap disana atau malah turun. Tapi, kalo Icha melihat keatas, InsyaAllah nilai Icha langsung loncat jadi nomor satu…..” Dan kemarin saat aku menangis menyesali kekalahanku.
“Menang kalah itu hanya pandangan manusia, Icha sudah mengikuti saja Icha sudah luar biasa, luar biasa dari semua yang batal mengikuti lomba itu dan keuntungan terakhir Icha mendapatkan ilmu……” aku tersenyum mengingat semua nasihat ibu, lembut tutur ibu dalam menasihatiku, bagiku. Ibu lebih dari seorang Mario Teguh yang terkenal sebagai motivator hebat, ibu lebih dari seorang Andrie Wongso yang sering dijuluki motivator nomor satu di Indonesia. Mulai sekarang aku akan bangkit! Aku pasti bisa mengukir senyum indah di wajah cantik ibuku! Sekarang, kuputuskan tak ada lagi kata putus asa! Aku akan bangkit dari ketidak percayaan dan sekarang, aku akan keluar dari lubang kekalahan yang gelap gulita tanpa cahaya kemenangan dan kepercayaan! Terimakasih ibu, engkaulah motivatorku.

Minggu, 09 Oktober 2011

Surat Untuk Bunda

Maaf Nanda Bunda......







Bunda.....
Hari ini nanda curahkan isi hati nanda tentang bunda lewat untaian kata ini......
Bunda, mungkin bunda sudah bosan melihat wajah nanda  karena kenakalan, kemalasan & kecerobohan nanda......
Bunda, nanda tak pernah bermaksud jahat pada bunda....
Tak pernah terbesit di pikiran nanda, Bunda Jahat...... 
Nanda tak ingin bunda pergi dari rumah ini, maaf atas kelakuan nanda yang selalu membuat bunda menitikkan air mata......
Bunda, maafkan nanda jika kata-kata nanda seringkali membuat bunda sedih dan kecewa......
Bunda, maaf jika nanda tak pernah bisa membanggakan bunda.....
Bunda, maaf jika nanda tak bisa meraih prestasi seperti yang bunda inginkan......
Bunda, maaf jika nanda selalu membuat bunda kecewa.....
Membuat bunda menjadi tak ingin menceritakan nanda pada satu orangpun.....
Bunda, izinkan nanda melihat senyum bunda.....
izinkan nanda mengusap airmata bunda......
izinkan nanda mengukir sebuah senyum kebanggaan di wajah bunda.......
kata maaf dan terimakasih tak akan berhenti nanda ucapkan.....
bunda harus tau, betapa nanda mencintai bunda.....
betapa besarnya rasa bersalah nanda pada bunda......
bunda, maafkan nanda yang tak bisa menjadi seperti yang bunda inginkan......
maafkan nanda yang belum membuat bunda bahagia atas kehadiran nanda........ 



Bukan Berarti Kalah

“Dear diary, hari ini Icha lomba lagi, hari ini Icha akan menghadapi tantangan lagi. Diary, terimakasih ya udah mau denger  semua pengalaman lomba Icha, Icha tidak tahu apakah besok Icha akan berdiri di atas panggung itu? hanya Allah yang tahu. Icha hanya bisa berusaha……..” Icha menutup diary kecilnya, diary kuning yang dibelinya bersama Dilla, salah seorang temannya. Icha mempunyai dua diary, yang satu lagi bergambar Mickey Mouse, tempatnya mencurahkan semua keesalannya terhadap teman sekelasnya. 


 Icha meletakkan diary itu di bawah kasurnya dan beranjak dari kamarnya, mandi lalu bersiap untuk pergi ke lokasi perlombaan. Setelah berjam-jam pembukaan, Icha duduk di depan ruang lab komputer, jantungnya berdegup kencang. Perlombaandimulai, Arif, Naufal, dan Ainul. Memasuki lab komputer. Sedangkan Icha, Fadhel, Afif, dan Fathur duduk manis menunggu giliran mereka di gelombang 2 dan 3.
“Afif, coba lihat catatannya………..” Ujar Icha pada Afif yang sedang membaca ulang latihan kemarin, Afif memberikan catatan itu, Icha menghafalnya kembali, dia rasa seperti inilah soal yang akan keluar, tahun kemarin Icha juga sempat mengikuti lomba ini. Dia masih ingat semua kejadian sebelum, saat, dan setelah lomba, walau sudah setahun yang lalu. Setiap peristiwa lomba yang diikutinya, selalu diingatnya. Mungkin itulah pengalaman yang paling berkesan untuknya, yang menjadikan dia semakin semangat mengikuti berbagai macam lomba adalah kekalahan. Icha seorang yang tidak mudah putus asa, dia akan memberikan yang terbaik untuk semua, kalaupun kalah, dia akan mencobanya kembali. Saat Icha sedang asyik membaca ulang kembali latihan kemarin, Hafidz mengagetkannya, sahabat Icha sejak kelas 4.
“Icha, belum mulai ya??”
“Hah? Apa? Oh, belum Fidz, aku gelombang tiga, sekarang masih gelombang pertama……”
“Lama ya? Mana ustadz Pian??”
“Nggak tahu juga tuh, dari tadi aku sms nggak bales, kalo ditelfon baru bisa dihubungin, isyarat pesannya kekecilan kali ya?? Kamu sudah Fidz?? ”
“Ya, betul…… betul…… betul…….”
“Final masuk nggak??”
“Wuuih, tentu masulah, Hafidz gitu lho!”
“Ya, sudah, latihan lagi sana, bareng Izzah atau Dioz……..”
“Bye……..” Hafidz berlalu pergi, dia tersenyum kecil melihat sahabatnya yang super lucu itu. gelombang satu selesai, Ainul keluar dari lab komputer dan mencari Icha, menyampaikan sebuah berita penting, kelihatannya.
“Icha, drawing toolbarnya kok nggak ada??”
“Ya, mana tau aku, aku bukan petugasnya, aku peserta……..”
“Beneran nggak ada Icha…….”
“Yang dipake office dua ribu tiga atau dua ribu tujuh??”
“Dua ribu tiga…..”
“Gimana ya? Kalo office dua ribu tiga aku udah banyak lupa, latihan maren makenya dua ribu tujuh…..”
“Ya sudah, sms ustadz aja…..” Afif mengagetkan Icha dan Ainul.
“Oh, ya……” Seru Fadhel dan Fathur.
“Cepat sms Cha, sebelum gelombang tiga dimulai…….”
Icha berlari ke belakang kantin, kebetulan ada Dioz disana dengan heran ia bertanya pada Icha.
“Icha, ada apa? Kok kayaknya penting banget gitu?”
“Gawat, Yoz, aku sms ustadz dulu…….”
“Ehm, Icha dah berani nih deket ama ustadz lagi, nggak takut diejek lagi??”
Dioz jahil mengganggu Icha, Icha tak memperdulikannya, lama ICha menunggu balasan dari ustadz. Gelombang ke 2, sudah memasuki lab komputer, Dioz masih makan mie di kantin, final lomba scrabble dimulai 2 jam lagi.
“Icha, telfon aja ustadz, gelombang kedua udah masuk…….”
“Telfon? Kamu ada pulsa yoz??”
“Lah, emang kamu nggak ada pulsa??”
“Ada sih, tapi……”
“Ah, banyak omong, telfon aja sekarang…….” Icha mengangguk, menekan tombol dan menelfon ustadz.
“Halo, Assalamu’alaikum?”
“Ustadz, temen yang lain pada nanyain Icha, Icha nanya ke Afif dia juga nggak tahu, Icha kebanyakan udah lupa office dua ribu tiga……”
“SekarangIcha dimana? Lombanya sudah??”
“Di RSBI tadz, belum, Icha gelombang tiga…..”
“Afif gimana? Udah belum??”
“Afif, bareng Icha, ustadz dimana sekarang? Kok nggak ngawas dari pagi??”
“Ustadz kuliah nak, nanti ustadz kesana tapi Cuma sebentar, itu juga kalo dapet izin….”
“Iya tadz, iya…..”
“Ya, sudah, Assalamu’alaikum……”
“Wa’alikumsalam……” Icha setengah berlari kea rah Fadhel, Fathur dan Afif, tersenyum dan memberitahu mereka bahwa ustadz akan datang. Sekarang pukul 12.05, itu artinya sudah saatnya sholat Dzuhur, tapi, adzan belum juga terdengar. Saat mereka seang menunggu adzan Dzuhur dekaligus giliran, saat itulah ustadz datang dengan membawa tas hitam.
“Icha…..” panggil ustadz, Icha menoleh dan setengah berlari kea rah ustadz, Afif, Naufal, Fathur dan Ainul. Semua peserta lomba TIK dari SDIT cepat menggerumuni ustadz, Ima menyikut Icha dan tersenyum sambil melirik ustadz Pian.
“Apa sih??” Icha sedikit kesal dengan ulah teman sekelasnya, bahkan akhir-akhir ini, anak kelas B, ikut-ikutan mengganggunya jika bertanya pada ustadz. Entah apa alasan mereka, yang jelas ulah mereka membuat Icha semakin malas bertanya pada ustadz. Dia hanya berani bertanya pada ustadz secara tidak langsung. Setelah bertanya banyak hal mengenai lomba, mereka duduk kembali di kursi yang telah disediakan. Ustadz menyapa alumni SDIT yang bersekolah disana, sementara Icha dan teman-temannya asyik bercanda, apapun akan jadi bahan tertawaan mereka. Sedikit haus, Icha berjalan ke kantin untuk membeli minum, tanpa sengaja, ia mendengar sedikit percakapan antara ustadz dan salah seorang alumni SDIT.
“Kalo mereka bingung, bantu aja murid ustadz ini ya…..”
“InsyaAllah ustadz, kami juga nggak tugas ngawas lomba TIK…..” mendengar itu, Icha tertawa lucu, sambil meminum teh dingin yang baru saja dibelinya.  Icha menatap taman RSBI yang tertata rapi, ia melihat ke sebuah kandang dekat kolam RSBI, hewan yang disebut ayam. Sudah biasa kulihat, tapi yang ini sangat unik, tuguhnya kecil dan pendek.
“Dek Icha……” suara seseorang  mengagetkan Icha, ia  berusaha mencari asal suara itu, kulihat seorang laki-laki tinggi, berjaket hitam, berkulit putih, hidung mancung dan memakai kacamata. Orang itu tersenyum,  Icha membalas senyumnya dan berusaha mengingat siapa dia.
“Oh, bang Rian…….” Seru Icha mengagetkan Ainul,Icha tertawa melihatnya.
“Ustadz kuliah dulu ya……” ustadz berujar pada mereka
“Iya ustadz…..” balas Ainul dan Fathur berserempak.
“Titi Dj tadz…..” seru Afif dari belakang.
“Hati-hati di jalan tadz…..” Icha menyambung, ustadz tersenyum dan berlalu pergi. Tak lama, sekarang saatnya kelompok Icha mengerjakan tugas lomba, tangan Icha mulai gemetaran, ia gugup. Satu persatu soal dikerjakannya, belum ada peserta yang selesai. Keahliannya mengetik membuat waktu yang dibutuhkan olehnya tak begitu lama.
“Bismillah……” gumamnya.
“Kak, sudah……” ujarnya pasa seorang pengawas yang juga alumni SDIT.
“Tanda tangan disini dan boleh keluar, pengumuman bersok……” pengawas itu memberikan selembar kertas hps dan sebuah pena. Icha menulis namanya dan menanda tanganinya. Icha keluar dari lab komputer, sudah sedikit lega. Sampai di rumah, sudah pukul 05.00 Icha membuka buku TIK dan berusaha mengingat yang ia kerjakan tadi, ia tersenyum dan saat jarum jam menunjukkan pukul 09.00, Icha memasuki kamarnya. Saat hendak menutup matanya, hpnya bordering, sebuah sms masuk.
“Bagaimana lombanya Icha? ” pesan dari ustad Pian, setelah membaca Icha membalasnya.
“Alhamdulillah ustadz, yang belum selesai hanya Naufal dan Ainul, yang lain Alhamdulillah selesai……” Icha mengirim pesan itu lalu memejamkan matanya. Seperti biasa, pagi hari Icha bersiap untuk ke sekolah, sampai di sekolah ia akan duduk manis di kelas sambil bercerita. Iftitah dan pelajaran dimulai. Hari ini hari kamis, itu artinya, hari inipun pulang pukul 04.00. hari ini Icha lebih banyak diam, Icha juga tak banyak bermain. Tapi, saat di perjalanan pulang wajahnya tak lepas dari senyuman.
“Icha, ajak Afif kls 6 ke RSBI skrng…..” seperti itulah sms ustadz Pian yang membuat Icha GR. Dia sudah senang, sangat senang. Ia menduga bahwa ia memenangkan lomba itu, tapi Allah maha tahu segala yang baik untuknya. Begitu sampai di rumah, Icha langsung ke RSBI tanpa mengganti baju, ia hanya meletakkan tas, ia berlari kea rah Rizka tersenyum dan bertanya.
“Apa aku menang??” Rizka hanya menggeleng, wajahnya cemberut.
“Terus??”
“Afif yang menang, awalnya aku juga kaget nggak percaya, padahal Icha pintar yang namanya komputer…..” wajah Icha berubah murung, ia sedih karena ternyata ia gagal. Berusaha menahan air mata yang sejak tadi bertengger di pelupuk matanya, Icha bertanya kembali pada Rizka.
“Kamu?”
“Tidak, ini milik kak Yais….”
“Terus?”
“Aku hanya menemani Izzah……” aku berlari kea rah ayahku, menunggu sebentar dan buru-buru pulang. Di rumah, Ayah dan Ibunya tak henti menghibur dan menyemangati Icha.
“Kemenangan bukan segelanya……..”
Air mata Icha tak bisa terhenti. Di sekolah, ustadz dan ustadzahpun menyemangatinya. Tapi, tidak temannya, mereka terus mengejek Icha.
“Ustadz izin hanya untuk kalian, bersyukur……”
“Iya, aku aja yang lebih penting dari TIK nggak diperhatiin bener…..” entah apa lagi kata-kata tajam yang terlontar dari mulut temannya, membuat Icha sedih dan sakit sekali. Dari semua itu, kata yang paling sering didengarnya dari motivatornya yang luar biasa adalah kata sederhana penuh arti.
“Kita kalah, bukan berarti kalah sepenuhnya, tapi kita kalah untuk menang, menang berani tampil, menang dapat ilmu, dan banyak lagi yang menyebabkan kita menang dari orang lain, Allah tak akan membiarkan hambanya menangis Cha, yang penting kita sudah berusaha…….”


Rabu, 05 Oktober 2011

Cinta Hani Untuk Allah

                Sehari setelah perkenalan itu, Hani makin dekat saja denganku. Aku sangat menyayangi Hani. Hani anak yang baik, tapi aku tidak tahu bagaimana Islam Hani. Saat itu, aku sedang bersama Yayas dan Mia. Dua adik sepupuku ini sangat manja sekali, dimana saja.
“Kak, Mia tadi di kelas buat surat untuk Tika……” Yayas berujar padaku.
“Iya? Surat apa?” aku bertanya pada Yayas, sambil sedikit melirik Mia.
“Suraat…….” Mia segera merogoh tasnya, mengambil sebuah amplop putih. Tiba-tiba Hani datang, ia duduk di pangkuanku, kedekatanku dengan Hani terkadang membuat dua adik sepupuku ini protes. Aku memeluk Hani sejenak, mengambil amplop surat Mia dan mulai membaca.
“Tika suka sama Osa?” tanyaku pada Mia sambil menutup kembal amplop itu. 


Mia mengangguk pelan, Yayas hanya tersenyum jahil pada Mia. Hani dari tadi hanya menatap lagit biru yang luas.
“Rifky udah punya pacar dirumahnya Yas, hati-hati aja……” Mia tersenyum, sifat jahilnya kambuh.
“Iya, itu pacarnya, si Yayas…….” Aku menunjuk Yayas.
“Bukan kak, ada pacarnya Rifky dirumah, Yayas juga tahu…..” Yayas menyahut.
“Playboy dong??”  aku tersenyum
“Ih, Osa juga kok……..” Yayas tak mau kalah.
“Osa  juga??” tanyaku pada Mia, aku heran dua adikku ini sudah punya pacar semua, mereka masih terlalu kecil.
“Iya, bener kata Yayas…..”
“Kok masih mau??” Yayas dan Mia hanya tersenyum kecil, bel istirahat belum berbunyi. Itu artinya, aku bisa menemani mereka hingga dijemput. Aku bercakap sedikit tentang Rifky dan Osa, Mia dan Yayas yang sok tahu, menjawab seenaknya. tak lama, datanglah Dadan menjemput Yayas dan Mia. Sejenak tempat itu hening, aku dan Hani sama menatap langut biru. Memecah kesunyian, aku bertanya pada Hani iseng.
“Udah punya pacar belom Hani??”
“Nggak punya……”
“Suka sama siapa?”
“Nggak ada……”
“Sayang??”
“Nggak juga……”
“Ini aja deh, Hani cinta ama siapa hayoo??”
“Hani nggak cinta sama siapa-siapa kak, cinta Hani hanya satu dan hanya untuk Allah…….” Jawaban Hani membuatku terdiam, aku membelai kepalanya lembut dan tersenyum. Aku bangga dengan jawaban Hani, Hani tak seperti teman-temannya yang sibuk dengan urusan pacar, aku bangga dengan Hani, aku bangga bisa dekat dengan Hani. Cinta Hani hanyalah untuk Allah. Hanya satu, untuk Allah.  Jawaban yang jarang sekali didapatkan dari seorang anak orang kaya yang tak begitu memperdulikan agama. Jawaban yang jarang sekali dipikirkan oleh seorang anak kelas satu!


Kisah Nyata Yang Kualami, Jawaban Nyata Yang Kudengar Dari Seorang Hani, Anak kelas Satu A, Angkatan Ke 9

Kamis, 29 September 2011

Teman


Disaat matahari mulai menghilang....................

Disaat langit mulai menghitam..............

Hati ini kembali gelisah..............

Hati ini kembali Hitam..........

Hati ini kembali muram.............

Disaat itulah kau datang dengan senyummu.................


Disaat itulah kau datang dengan hati tulus............ 


Teman..........


Kau datang tepat dimana aku membutuhkanmu.............


Kau menabur bintang di hatiku.............

Memberi cahaya malam di hatiku..........

Menebar Kesejuan angin malam di hatiku..........


Tuhan............


izinkan aku mendengar ceritanya...............

izinkan aku mengusap air matanya............

izinkan aku melihat senyumnya...............

izinkan aku mendengar tawanya...............

izinkan aku mendekap tubuhnya....................

izinkan.........

mohon tuhan............... 

kembalikan kesempatan itu....................





Senin, 26 September 2011

Akhir Sahabat


            Kejadian yang terjadi dua tahun lalu ini terus kuingat, pada hari dimana itulah hari terakhirmu sobat, hari yang mengingatkanku akan janji Allah, bahwa semua makhluk tanpa terkecuali akan meninggalkan dunia fana ini, ingin aku meraung sejadi-jadinya engkau meninggal tepat di depanku dan surat akhirmu, tubuhmu terjatuh dan terbaring tak berdaya di ruang kelas, lokal ini menjadi tempat terakhirmu di dunia ini. Saat itu kau sedang menulis sebuah surat di atas kertas berwarna hijau muda kesukaanku. Kau asyik dengan tulisanmu, bahkan saat menjawab pertanyaanku kau tak menoleh sedikitpun padaku.
“Ngapain Riz??”
“Surat untukmu, bisa dibaca kalo udah selesai nanti…….”
“Kemana penaku??”
“owh, ini……..” Fariz merogoh kantung tasnya, tapi tak dia temukan, ia mengingat apa yang dia kerjakan tadi lalu berkata.
“Sudah kukembalikan…….”
“Belum Riz, ayolah, berikan padaku itu tanda sahabat kita, itu sangat berarti bagiku……”
“Sudah, tadi Azzam lihat, Tanya saja…..” berkata Fariz dan kebetulan di saat itu Azzam melewati kamu, aku memanggil Azzam.
“Ada apa Man?” ujarnya lembut, sifat ramah dan murah senyum membuatnya terkenal hingga ke ujung sekolah.
“Apa tadi kamu melihat Fariz mengembalikan penaku??”
“Oh, pena yang bertuliskan Fazman itu??”
“Iya, betul itu…..”
“Seingatku sudah, saat Fariz mengembalikan kamu sedang menggambar……..” 
“tapi itu tidak ada…..”
“Ya sudah Man, nanti biar kuganti pena itu…..” Fariz santai, aku curiga apa dia berbohong sudah mengembalikan penaku?
“Tidak, aku tak menginginkan gantinya…….” Belum selesai berbicara datang Hafidz menyalamiku, aku sedikit heran. Ada apa?
“Selamat ulang tahun ya Man, semoga jadi anak cerdas, berbakti dan umurmu berkah…” ujar Hafidz melontar senyumnya. Aku ingat hari ini adalah ulang tahunku, tapi, apa yang diberikan Fariz untukku? Dia sama sekali tak menghargai persahabatan ini, saat dia ulang tahun, aku memberikan sebuah novel yang sudah diidamkannya sejak awal novel itu beredar. Aku rela walau aku harus berjualan Koran dari pulang sekolah hingga sore, terkadang aku merasakan dinginnya hujan, Fariz sahabat yang tak tahu terimakasih, dia hanya berucap selamat? Aku tak percaya ini Fariz?

            “Azman tunggu aku……” Fariz mengejarku
“untuk apa? Bukankah kamu bisa pergi ke kantin bersama Azzam?? Azzam lebih penting dari aku!” Fariz terkejut dengan sikapku, aku setengah berlari ke kantin dia terus mengikutiku.
“Apa?!” seruku sambil berbalik ke belakang, Fariz menatapku
“Azman, jelaskan apa salahku? Masalah hadiah? Hari ini juga akan kuberi Man, apa karena hadiah saja kau berubah secepat itu?” Fariz memelas, sedikit kasihan tapi aku tak memperdulikannya aku duduk di bangku kantin Fariz mengikutiku.
“Kembalikan pena itu, pena itu berarti untukku……” ucapku sambil menunduk
“aku berjanji akan mendapatkannya hari ini juga……” balasnya dia menjulurkan tangannya ingin bersalaman, tak kuhiraukan aku segera pergi ke dalam kelas, aku melihat kekecewaan di wajah Fariz melihat perubahanku, memanfaatkan waktu dia mencari penaku di kelas, aku tak menghiraukannya.
“Terserah kau Fariz!! Kau tak menghargai pemberianku!! Kau menghilangkan pena kesayanganku!!” aku berteriak dalam hati, kekesalan ini bertambah dengan adanya dorongan setan. Sebenarnya ada rasa kasihan dalam hati ini, ingin kubantu Fariz mencari pena itu. Tapi, alangkah malunya aku, apa yang akan dikatakan teman-teman tentangku? Aku tak menghiraukannya mengambil kertas dan mulai mencorat-coret kertas itu. Bel berbunyi, Ustadz Anto memasuki kelas, dengan senyum dia menjawab salam dari kami, pr dikumpulan, ustadz Anto akan memeriksanya sementara kami bebas bermain asalkan tak terlalu ribut, Fariz tetap sibuk mencari pena itu, dia mencari tanpa menghiraukan penggilan dari siapapun kecuali aku dan ustadz, dia tak memperdulikan panggilan sombong padanya. Aku terharu melihat pengorbanan Fariz, titik-titik bening telah memenuhi pelupuk mataku, tapi aku terus berusaha untuk tidak menangis. Tiba-tiba bumi bergoyang, semua segera keluar membawa peralatan belajar mereka, aku menarik Fariz untuk keluar.
“Ayo Fariz! Guncangan ini kuat sekali, nanti kita tertimpa bangunan!” seruku
“tunggu, itu penanya……..!” Fariz berlari mengambil pena kesayangaku itu dan kembali ke tempat duduknya, mengambil surat tadi dan sebuah kotak. Bangunan mulai runtuh jarak bangku Fariz ke pintu cukup jauh, kami segera berlari tapi sebuah bangunan runtuh di belakang Fariz membuat kakiku bergetar dan sangat kaku untuk berjalan. Atap kelas kami akan terjatuh, Fariz mendorongku dan melempar surat, pena dan kotak yang berbungkus kertas kado warna hijau muda, kakiku masih kaku untuk digerakkan, Fariz tertimbun reruntuhan bangunan. Aku terududuk! Fariz telah pergi! Bumi perlahan kembali seperti semula, air mataku tak dapat ditahan, aku menangis sejadi-jadinya.
“Fariiiiz………” bibirku bergetar, Azzam menghampiriku.
“Bukan hanya Fariz yang tertimbun, Hafidz, Ustadz Anto dan Asywa di dalam……” air mata Azzam menetes. Berkali-kali dia mengucapkan Hamdallah bersyukur dia masih diberi nyawa.
“Asta..ghfiru..llah…….” aku terdendat mengucap istighfar, aku tak percaya semua ini! setelah semuanya tenang, aku pulang kerumah membawa pena, surat dan kotak kecil dari Fariz, jenazah Fariz sudah berada di rumah sakit, aku harap dia bahagia. Di jalan, air mataku tak dapat kuhentikan, bagaimana tidak! Fariz menyelamatkanku! Sia juga masih sempat memberi surat dan pena kesayanganku! Aku duduk di teras rumahku, adikku tidak apa-apa aku bersyukur, ummi dan abi sedang pergi ke rumah nenek, yang sudah dipastikan tidak akan terkena guncangan dahsyat itu. Perlahan kubuka kotak kecil itu, di dalamnya terdapat sebuah kotak musik yang melantunkan lagu Snada-Teman sejati, air mataku kembali membanjir setelah membaca surat dari Fariz.
“Azman, sahabat baikku, maafkan aku, hanya ini yang dapat kuberikan padamu, jika kita akan berpisah nanti, kuharap kau tak lupa denganku, tak banyak kebaikan yang kulakukan untukmu, hanya ini yang dapat kulakukan untukmu Man, Jazakumullah khairan katsira atas semua kebaikanmu sobat, di hari ulang tahunmu ini, kuharap kau bahagia untuk selamanya. Walau nanti kita tak dapat bertemu kembali……… salam hangat persahabatan Fariz” 
“Ya Allah, aku tak ingin pena ini, aku ingin sahabatku, ya Allah kembalikan Fariz, ambilah nyawaku, dia terlalu baik tuk disakiti ya Allah, aku belum sempat meminta maaf padanya ya Allah……..” aku berteriak dalam hati, seandainya saja aku mengetahui ini yang akan terjadi, aku akan biarkan pena itu hilang, sungguh baik hati Fariz, dia menghadiahkan nyawanya untukku, berilah dia tempat terbaik di sisimu ya Allah. Amiin.

.

[gigya width="100" height="100" src="http://www.widgipedia.com/widgets/orido/Jam-Garuda-Indonesia-4639-8192_134217728.widget?__install_id=1276566823397&__view=expanded" quality="autohigh" loop="false" wmode="transparent" menu="false" allowScriptAccess="sameDomain" ]